Jumat, 06 Februari 2015

Kata Abuya Turthusi...engke mah pasar geh di ruyuk kiray.. Maksudnya, apa saja jd komoditas tp menipu ?

Kata Abuya Turthusi...engke mah pasar geh di ruyuk kiray..
Maksudnya, apa saja jd komoditas tp menipu ?
Komodifikasi Agama = Srigala berbulu domba
“Mari, Kaka, dipesen hijab syar’ie-nya biar semakin shalihah….”
“Tutuplah auratmu dengan baik saat berenang. Pakailah baju renang yang syar’ie….”
“Biar kian sempurna shalatmu, ibadahmu, kemuslimanmu, pilihlah loundry yang syar’ie….”
“Mau nabung atau bisnis, pakailah pinjaman Islami bersama BMT kami biar berkah….”
“Wedding organizer kami beda sama yang lain, sebab kami berdasarkan asas-asas syari’ah pernikahan. Siap menghantarmu menuju sakinah, mawaddah, wa rahmah….”
“Bersama travel kami, mabrur mubarak….”
****
Itulah contoh-contoh sempurna komodifikasi agama. Istilah akademik ini merupakan bagian dari studi Islam and Global Issues, yang bertolak dari kenyataan-kenyataan di masayarakat tentang relasi Islam dan kapitalisme.
Well, biar mudah, mari pahami komodifikasi agama ini dengan cara begini saja: “Kegiatan bisnis, jualan, kapitalistik yang menjadikan label-label agama sebagai strateginya biar larissssss….”
Ya, jualan, bisnis, jangan salah ya. Ruhnya adalah kegiatan kepitalisme, bukan agama itu sendiri. Agama hanyalah kendaraan politis untuk mensugesti orang-orang yang gampangan diseret oleh bumbu-bumbu Islami. Ya, tentu, hanya orang-orang yang sesungguhnya (sorry to say) kurang tahu Islam dengan baik dan dalamlah yang akan menjadi mangsa empuknya. Umat Islam yang kritis pastilah takkan mudah disantap oleh komodifikasi ini.
“Om, bukankah kegiatan berbisnis itu memang harusnya berlandaskan agama Islam pula bagi umat Islam?”

Dalam al-Qur’an, kegiatan berdagang/berbisnis harus dijalankan di atas satu prinsip dasar: ‘an taradhin (saling ridha, ikhlas, tulus, jujur). Bahwa bisnis adalah kegiatan kapitalistik, mencari keuntungan, demikian pulalah dalam Islam. Tetapi, dalam Islam, kegiatan kapitalistik itu “dirambui” dengan prinsip ‘an taradhin tersebut. (Jika kau baca Max Weber tentang Etika Protestan, begitu jugalah kelompok agama tersebut membedakan dirinya secara ajaran dengan kapitalisme liberal).
Maka, berdasar prinsip ‘an taradhin ini, segala jenis bisnis yang di dalamnya mengingkari ketulusan, kejujuran, dan kesesuaian (antara janji spek barang dan faktanya), otomatis tidaklah Islami.
Saya begitu sering tersedak menelan ludah pahit saat menyaksikan jamaah umrah yang notabene mayoritas wong ndeso itu digeletakkan bak bambungan sejak pukul delapan pagi di selasar-selasar bandara Soetta, lalu di telinga mereka dihembuskan musik merdu komodifikasi agama. “Demi mabrur, ibadah umrah ini harus dihadapi dengan kesabaran, maka sabarlah ya menunggu flight pukul lima sore nanti.”
Shittt!
Saya memaki dalam hati. Ini kurang ajar sekali! Sungguh tak ada hubungannya antara kemabruran umrah seseorang dengan berantakannya fasilitas kenyamanan yang seharusnya diberikan oleh para penyedia jasa travel umrah sesuai speknya. Mabrur adalah satu hal, fasilitas travel adalah hal lainnya. Menyerbukan “mabrur” demi meredam amarah para jamaah yang tentunya berbanding lurus dengan tanggukan untung selangit bagi para pebisnis travel itu jelas adalah aksi komodifikasi. Tidak ada prinsip ‘an taradhin dalam proses bisnis tersebut.
Saya pernah juga menjumpai banner yang dibentangkan oleh sebuah travel di kantornya dengan propaganda komodifikasi begini: “Bersama kami, mabrur menanti…”
Kurang ajar banget ini! pekik saya dalam hati. Sungguh nggak ada hubungannya antara capaian mabrur dengan ikut travel umrah manapun. Kemabruran seseorang sepenuhnya tertandai dari dua hal saja: “afsyus salam wa ith’amuth tha’am”. Udah, itu aja.
Travel tugasnya hanyalah jualan seat perjalanan, fasilitas, stop sampai di situ. Saat travel mencaplok nilai sakral pelaku umrah/haji, yakni mabrur, ke dalam aksi bisnisnya, jelas itu adalah komodifikasi. Dan, bukankah sungguh kurang ajar sekali jika ada manusia yang lancang mengkapling kemabruran umrah/haji atas nama jasa travelnya?
Lihat pula bagaimana belakangan ini trend propaganda “syar’ie” diserbukan sedemikian dahsyatnya oleh para pebisnis yang melek benar tentang pengaruh sakralitas simbol agama terhadap minat masyarakat.
Hijab syar’ie, misal. Hijab jelas Islami dalam prinsip menutup aurat. Tetapi penyertaan stempel syar’ie di belakang hijab itu, yang menunjuk pada sebuah desain dan pola hijab tertentu, apalagi identitas dan merek tertentu, agar masyarakat membelinya, jelas adalah kegiatan komodifikasi. Kegiatan bisnis murni yang menunggangi agama sebagai “alat jualnya”.
“Mari, Ukhti, pakai hijab syar’ie-nya agar semakin shalihah dan jadi wanita yang dirindui surga….”
Shalihah mbahmu!
Surga mbahmu!
Syar’ie mbahmu!
Huuhh, betapa jengkelnya saya menyaksikan ketegaan komodifikasi yang membodohi masyarakat muslim sejenis ini.
Perkara kau mau pakai hijab yang sepanjang lutut, silakan. Perkara kau mengikuti pandangan bahwa hijab yang benar ialah yang gibar-giber dihembusin angin, ya silakan. Tetapi, plis deh, sangat kurang ajar lho untuk mengait-ngaitkan pilihan model dan pola hijab itu dengan capaian keshalihahan dan kerinduan surga itu.
Nenek, ibu, bulik, budhe saya yang muslimah-muslimah itu kagak kenal apa itu hijab syar’ie, dan mereka ke mana-mana ya berjilbab saja, dengan prinsip yang mereka yakini sebagai penutup aurat. Tanpa perlu dikaitkan dengan syar’ie yang manapun, mereka berada dalam posisi yang sama dengan muslimah manapun yang memilih untuk berhijab, termasuk yang berhijab syar’ie itu.
Apakah sebab mereka tidak pakai hijab yang kau sebut syar’ie itu lantas berkurang keshalihahan dan potensi mereka untuk dirindui surga? Zero warranty! Tidak ada kepastian apa pun secara naqli dan aqli tentang shalihah dan surga itu dalam kaitannya dengan bagaimana pola dan model, apalagi merek, hijabmu. Stempel syar’ie di situ jelas hanyalah sebuah komodifikasi. Mungkin, suatu hari, akan lahir lagi komodifikasi yang lain, misal hijab firdaus, hijab ahlul jannah, atau hijab binti jahal. Pissss….
Saya juga menyaksikan sendiri seorang kawan sampai harus kehilangan rumahnya gara-gara meminjam uang untuk modal usaha pada sebuah BMT (Baitul Mal wat Tamwil). Apes, bisnis yang dirintisnya gagal. Bunganya meledak-ledak. Tidak ada kebijakan lunak apa pun terhadap kawan tersebut, dan rumahnya benar-benar disita tanpa ampun oleh pihak BMT. Jika benar BMT menerapkan prinsip Islami, sesuai namanya, yakni harusnya bersendikan mudharabah dan ta’awun, pastilah akan banyak solusi bersendikan tolong-menolong untuk kebaikan bersama di dalamnya, sebelum eksekusi pahit itu dilakukan dengan mudah. Lantas, apa bedanya itu lembaga keuangan yang pakai stempel Islam dan bukan? Apa bedanya BMT dengan bank plecit itu?
Nothing.
Saya kasih tahu, ini bisnis, Bung, ini kapitalisme, Bung. Segala macam stempel Islam itu hanyalah “alat propaganda” untuk menyedot minat konsumennya yang (ironis) mudah dibuai oleh simbol-simbol agama. Dan itulah makanan empuk komodifikasi agama.
Membiarkan diri dimangsa oleh kepalsuan komodifikasi agama itu jelas pertanda kita tidak kritis. Kurang ilmu. Fakir pergaulan dan pemikiran mendalam. Ya, saya tahu, sekalipun itu adalah soal pilihan hidup, tetap saja saya prihatin menyaksikan betapa mudahnya (terutama) anak-anak muda masa kini dimangsa oleh kapitalisme yang pintar banget menjubahi dirinya dengan simbol-simbol Islam.
Okelah, tentu saja saya mafhum bahwa itu hak setiap orang untuk tega memperkosa agama demi meraup keuntungan atau pun hak orang-orang untuk mengikuti apa pun yang membuatnya terhipnotis. Saya sama sekali tidak dalam posisi menentang apa itu hijab syar’ie, BMT, travel umrah/haji, dll. Tidak.
Saya dalam posisi mendedahkan saja bahwa komodifikasi itu:
Pertama, kegiatan menunggangi agama untuk kepentingan bisnis demi mengeruk keuntungan finansial.
Kedua, publik yang disasar olehnya niscaya akan di-brain washing dengan doktrin religius yang tentu saja sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar sesuai dengan kepentingan nomer satu itu.
Ketiga, (ini yang sangat menyedihkan) publik yang telah termangsa sontak menjadi corong sempurna dari paham yang diluncurkan itu. Dalam ranah sosial kita, tentu suatu kondisi yang memilukan untuk menyaksikan anak-anak muda tercupetkan mindset-nya tentang Islam yang ala komodifikasi belaka itu. Sempurnalah di kepala mereka bahwa “saya yang benar”, “saya yang shalihah”, “saya yang calon ahli surga”. Padahal, oh my God, apa yang mereka klaim itu sejatinya hanyalah bius komodifikasi.
Tak ada jalan lain buat semua kita kini, di hadapan ketegaan-ketegaan kapitalisme berjubah komodifikasi agama ini, kecuali menjadikan diri kita kritis terhadap segala hal dalam hidup ini, termasuk yang tercium wangi bak parfum sekalipun. Dalam bahasa yang eneg, berhati-hatilah terhadap komodifikasi agama yang notabene serupa dengan pepatah “serigala berbulu domba”.
Mari berkritislah, Kawan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang yang begitu nikmat menyantap sarapan sebuah roti yang diolesi minyak babi, yang kita anggap halal, semata karena ia dipakcing dalam kaleng cap onta oleh produsennya.
Maaf, maaf jika ada yang menyinggung….
Edi Akhiles
Baca juga sebagai suplemen
http://m.republika.co.id/…/ngvopq-istilah-jilbab-syari-reta…

Rabu, 12 November 2014

Majelis Tarjih dan Sebab Perbedaan NU dan Muhammadiyah

Apa yg terjadi pada Muhammadiyah? Murnikah "ijtihad" mereka, atau hanya sekedar ingin tampil beda? Bukankah Persatuan Islam seharusnya diutamakan di atas segalanya..?

1. Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy'ari itu berkawan. Pernah satu guru, sama2 ahli fikih dan ahli hadist.

2. Sepulang dari menuntut ilmu di Makkah beliau berdua berdakwah sesuai keahlian dan masyarakat yg dihadapi.

3. Kiai Ahmad Dahlan bergerak di tengah Masyarakat perkotaan dlm hal ini Jogja.

4. Sementara Kiai Hasyim Asy'ari di masyarakat pedesaan dgn mendirikan pesantren di Jombang.

5. Keduanya adalah Allamah, orang hebat, mukhlis dan mulia. Rohimahumallah.  

6. Keduanya jg punya andil besar memperjuangkan kemerdekaan dgn upayanya mencerdaskan bgsa lewat pendidikan dan agama.

7. Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah, Kiai Hasyim Asy'ari dirikan Nahdlatul Ulama.

8. Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yg diamalkan masyarakat umumnya sama. Kalaupun ada beda itu sama sekali tak mengganggu.

9. Contoh, sholat tarawih sama2 20 rokaat. Bhkan Kiai Ahmad Dahlan adalah imam Tarawih 20 rokaat di Masjid Syuhada Jogjakarta.

10. Yg jg sama talqin mayit di kuburan, bhkn ziarah kubur dan kirim do'a dalam yasinan dan tahlilan.

11. Sama-sama baca do'a Qunut sholat shubuh dan sama2 gemar baca sholawat dgn dziba'an.

12. Dua kali khutbah dalam shalat Ied dan tiga kali takbir "Allahu Akbar" dalam takbiran jg sama.

13. Dan yg paling monumental, dulu NU dan Muhammadiyah sama2 menggunakan metode ru'yat hilal dlm menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

14. Semua amaliah di atas berjalan puluhan tahun dgn damai dan nikmat. Semuanya tertulis dlm kitab "Fikih Muhammadiyah".

15. Kitab tsb terdiri dari 3 jilid yg ditrbitkan oleh Muhammadiyah bagian Taman Pustaka Jogjakarta tahun 1943-an kira2.

16. Namun ktk dibentuknya Majelis Tarjih disinilah mulai ada penataan praktik ibadah yg rupanya "hrs beda" dgn apa yg digariskan pendahuluny

17. Hal ini secara otomatis membuat Muhammadiyah dan NU yg tadinya sama jadi berbeda dlm bnyk hal.

18. Duh, untuk menghemat karakter yg disediakan untuk slanjutnya Muhammadiyah disingkat MU. Bkn Manchester United lho.

19. Disinyalir "tampil beda" ini lebih bernuansa politis daripada kesahihan hujjah yg dijadikan dasar.

20. Ada sebuah tesis yg meneliti hadist2 yg dijadikan rujukan Majelis Tarjih MU dlm menetapkan hukum atau pola ibadah yg dipilih.

21. Kesimpulannya setelah uji takhrij yg hanya berstandar mutawasith (sedang) hadist2 yg dijadikan hujjah adalah dho'if.

22. Padahal Mayoritas ahli hadist mengatakan, hadist dho'if tak boleh dijadikan dasar hukum. Kecuali soal fadha'ilul a'mal (nilai keutamaan

23. Contoh (lagi), btp MU tdk benar2 memperhatikan derajat hadist yg dijadikan landasan adalah soal Tarawih yg 4-4-3.

24. Majelis Tarjih memutuskan jumlah rokaat Tarawih adalah delapan plus 3 rokaat witir.

25. Awal2 instruksi, pakai komposisi 4-4-3. 4 rokaat satu salam, 4 rokaat satu salam plus 3 rokaat satu salam.

26. Model Witir 3 rokaat sekaligus ini model Madzhab Hanafi. Smentara NU pakai dua dua semua trmasuk witir 2 plus satu. Ini Syafiie.

27. Tapi pd thn 1987 komposisi yg 4-4-3 td diubah menjadi dua dua atas saran KH Shiddiq Abbas pd halaqah di Sby.

28. Beliau berdasar pd Hadist Muslim yg lebih shahih. Maka melihat kenyataan dmikian semuanya tunduk/taslim.

29. Akibatnya pd thn itu jg diedarkan keputusan Majelis Tarjih ke semua wilayah tentang perubahan komposisi Tarawih tsb.

30. Dan itu berlaku sampai sekarang. Meski masih ada anggota MU yg masih bertahan dgn 4-4-3.

31. Sekarang mari kita beralih ke soal itsbat hilal pakai ru'yat. Yg lagi hangat2nya :)

32. Semua ahli Falak, apalagi dari MU pasti tdk pernah lupa bhw dulu MU pakai metode ru'yat bukan hisab spt saat ini.

33. Bahkan patokan ru'yat hilal mrk cukup tinggi yakni 3 derajat. Ini berlangsung selama era orde baru.

34. Departemen agama era orba didominasi oleh orang2 MU, mrk menolak ru'yat Hilal di bawah 3 derajat.

34. Dan selama era orba, ru'yat hilal 3 derajat atau lebih inilah yg selalu dipakai patokan oleh pemerintah dalam itsbatnya.

35. Sementara ahli falak NU yg jg menggunakan Ru'yat memandang posisi hilal 2 drajat sdh bisa untuk diru'yat.

36. Padahal dalam hal ini MU dan NU berdalil pada hadist yg sama yaitu hadist ru'yat dan ikmal.

37. Krn itulah di thn 90an tiga kali berturut2 NU lebaran lebih dulu, krn hilal 2 drajat nyata2 sdh bisa diru'yat.

38. Smentara pemerintah yg didominasi org2 MU hanya gunakan standar hilal tinggi sehingga hrs istikmal.

39. MU + Pemerintah dan NU, masing2 bertahan pada pendiriannya.

40. Setelah orba lengser dan Gus Dur jd presiden, MU dgn radikal meninggalkan cara ru'yat hilal berderajat tinggi. Lalu dimunculkan metode w...

41. Lalu dimunculkan metode wujudul hilal, pokoknya jk hilal sdh muncul di atas ufuk brapapun drajatnya, nol koma sekalipun itu sdh tgl 1.

42. Hadist yg dulu jd hujjah dan ayat seruan untuk "taat kpd Allah, Rasul dan Ulil Amri" menjadi ditafsir ulang

43. Bahkan dgn lantang Bpk Din Samsudin mengatakan, Menteri agama bukanlah Ulil Amri yg wajib ditaati.

44. Bhkn yg info mutakhir MU lapor ke Komnas HAM lantaran Menag mengatakan MU tdk taat kpd pemerintah.

45. Di sini MU membuat beda lagi dgn NU. Dulu hilal harus derajat tinggi, skrg kriterianya diubah lagi yg pnting muncul brpapun drajatnya.

46. Sementara NU tetap konsisten dari dulu sampai skrg, dgn standar minimum 2 drajat. Tentu beda lagi dgn NU

47. Dilihat dari fakta2 tsb di atas tentu twips bisa menyimpulkan siapa yg sengaja beda dan siapa yg enggan dipersatukan.  

48. Sekaligus fakta2 tsb diatas seakan membenarkan sinyalemen bhw perbedaan sengaja dibuat krn alasan2 politis. Wallahu A'lam bi showabih.

Oleh     @Imamdaratan 8/7/2014
http://chirpstory.com/li/95575

Rabu, 19 Februari 2014

KAJIAN NAFS (NAFSU) IMAM AL GHAZALI

KAJIAN NAFS ( NAFSU )

Assalamualaikum warah matullahiwabarakatuh....

Istilah "Nafs " mempunyai dua pengertian disini....

Makna pertama adalah :

"nafsu" atau "diri" yang mendasar atau lebih rendah kedudukannya.Nafsu adalah kata menyeluruh yang mencakup pengertian hawa nafsu: syahwat, amarah, dan sifat sifat jahat lainnya.

Rasulullah pernah bersabda: " Musuhmu yang terbesar adalah hawa nafsu yang berada diantara kedua sisimu"

Dalam pengertian pertama ini , "Nafs" berkaitan dengan atau termasuk dalam golongan syaitan. Ketika "Nafs" belum mencapai kesempurnaan, maksudnya belum mempunyai ketenangan dan ketentraman yang tinggi, ia di sebut " Nafs al-lawwamah" atau "jiwa yang mencela", seperti jiwa yang mencela seseorang karena lalai, lupa atau teledor dalam beribadah dan taat kepada Allah Subhannahuwata'ala. Apabila "jiwa" meninggalkan sikap menentang nafsu dan bertekuk lutut atau tunduk patuh kepada Syaitan, maka ia disebut " Nafs al-ammaratun" atau "Nafsu amarah" yang menyuruh kepada kejahatan. Al Quran menunjuk pada nafsu ini seperti pada Firman Allah dibawah ini:

" Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." ( QS. Yusuf : 53 )

makna kedua adalah :

"Jiwa" atau "hati" dikala "Nafs" mencapai ketenangan dan telah berhasil menyingkirkan "hawa nafsunya", maka ia dinamakan "nafs al-muthma'innah" atau "jiwa yang tenang- tentram"

Sebagai mana Firman Allah: " Wahai jiwa yang tenang - tentram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya " ( QS. Al fajr : 27-28 )

Jazakallahu Khairon .... Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh...

Minggu, 19 Januari 2014

12 RABIUL AWAL : PERISTIWA MAULID, HIJRAH DAN WAFAT (HAUL) NABI MUHAMMAD SAW.

12 RABIUL AWAL : PERISTIWA MAULID, HIJRAH DAN WAFAT (HAUL) NABI MUHAMMAD SAW.


Puji syukur Alhamdulillah hirobil ‘alamin marilah kita panjatkan kehadlirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya.
Sholawat serta salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, yang selalu kita nantikan syafa’at-nya di Hari Kiamat. Amin.
Amalan umat islam ahlusunnah wal jamaah pada saat “maulid”
- membaca sirah/kisah Nabi Muhammad SAW
Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”
- Membaca shalawat.
Bahkan Allah SWT dan para malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW :

[33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Surat Al-ahzab 56)
Sebagaimana diketahui, setiap tanggal 12 Rabiul Awal, kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini dimaksudkan untuk mengingat tiga peristiwa besar yang dialami oleh Rasulullah SAW, yakni kelahiran, Hijrah dan wafatnya Muhammad SAW.

A. Peristiwa besar saat lahirnya sebaik baik makhluk (Nabi Muhammad SAW) pada 12 Rabiul awal
Tanggal 12 Rabiul Awal adalah hari bersejarah yang utama bagi umat Islam di seluruh dunia, karena para hari itulah junjungan kita Nabi Muhammad SAW dilahirkanke dunia, membawa rahmat bagi seluruh alam.
Beliau dilahirkan di Makkah, kira-kira 200 meter dari Masjidil Haram pada Senin menjelang terbit fajar 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M. Kini tempat kelahiran Nabi itu dijadikan perpustakaan “Maktabah Makkah al Mukarromah”.
Dinamakan tahun itu dengan ‘tahun Gajah’ karena tentara Abrahah dari Yaman menyerang Ka’bah dengan maksud akan meruntuhkannya. Mereka datang dengan mengendarai gajah. Akan tetapi penyerangan itu gagal, dengan dikirim Allah pasukan burung ababil dari angkasa menjatuhkan batu-batu berapi kepada mereka sehingga mereka hancur lumat seperti daun kayu yang dimakan ulat, sebagaimana firman Allah dalam al Quran surat al Fil ayat 1 – 4.
Menurut pendapat Ibnu Ishak yang mahsyur, Nabi SAW lahir 50 hari sesudah peristiwa itu. Ada pula pendapat yang menyatakan 30 hari, 40 hari dan 55 hari sesudah kejadian itu. Mengenai tanggal lahirnya pun terjadi pula perbedaan pendapat ahli-ahli sejarah. Ada yang mengatakan tanggal 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 17 Rabiul Awal, dan 18 Rabiul Awal. Pendapat yang mahsyur dan penduduk Makkah sependapat tanggal 12 Rabiul Awal. Adapun saat kelahiran beliau itu menurut yang mahsyur menjelang terbit fajar, saat doa dimakbulkan Allah SWT.
Hari Istimewa
Perlu diketahui, sejatinya Allah SWT juga menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai momen istimewa. Fakta bahwa Rasul SAW terlahir dalam keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177) adalah salah satu tengara. Fakta lainnya:
Pertama, perkataan Utsman bin Abil Ash Atstsaqafiy dari ibunya yang pernah menjadi pembantu Aminah r.a. ibunda Nabi SAW. Ibu Utsman mengaku bahwa tatkala Ibunda Nabi SAW mulai melahirkan, ia melihat bintang bintang turun dari langit dan mendekat. Ia sangat takut bintang-bintang itu akan jatuh menimpa dirinya, lalu ia melihat kilauan cahaya keluar dari Ibunda Nabi SAW hingga membuat kamar dan rumah terang benderang (Fathul Bari juz 6/583).
Kedua, Ketika Rasul SAW lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam).
Ketiga, riwayat yang shahih dari Ibn Hibban dan Hakim yang menyebutkan bahwa saat Ibunda Nabi SAW melahirkan Nabi SAW, beliau melihat cahaya yang teramat terang hingga pandangannya bisa menembus Istana-Istana Romawi (Fathul Bari juz 6/583).
Keempat, di malam kelahiran Rasul SAW itu, singgasana Kaisar Kisra runtuh, dan 14 buah jendela besar di Istana Kisra ikut rontok.
Kelima, padamnya Api di negeri Persia yang semenjak 1000 tahun menyala tiada henti (Fathul Bari 6/583).
Kenapa peristiwa-peristiwa akbar itu dimunculkan Allah SWT tepat di detik kelahiran Rasulullah SAW?. Tiada lain, Allah SWT hendak mengabarkan seluruh alam bahwa pada detik itu telah lahir makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya, dan Dia SWT mengagungkan momen itu sebagaimana Dia SWT menebar salam sejahtera di saat kelahiran nabi-nabi sebelumnya.
Dalam Shahih Bukhari diceritakan, sebuah kisah yang menyangkut tentang Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah budak [perempuan] Abu Lahab [paman Nabi Muhammad [SAW]. Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab tentang kelahiran Muhammad [keponakannya], tepatnya hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Abu Lahab bersuka cita sekali dengan kelahiran beliau. Maka, dengan kegembiraan itu, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah. Dalam riwayat disebutkan, bahwa setiap hari Senin, di akhirat nanti, siksa Abu Lahab akan dikurangi karena pada hari itu, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Abu Lahab turut bersuka cita. Kepastian akan hal ini tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, yang paling berhak tentang urusan akhirat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.
B. PERISTIWA HIJRAH : SAMPAINYA RASULULLAH DI MADINAH PADA  12 RABIUL AWAL

12 Rabiul Awal ,tahun 13 kerasulan atau 2 JULAI 622 M.  Rasulullah, Abu Bakar  dan rombongan sampai ke Madinah disambut oleh penduduk Madinah dengan kegembiraan dan kesyukuran. Hijrah Tarikh hijrah adalah tarikh tibanya Rasulullah di Madinah al-Munawwarah pada ketika itu di sebut Yatsrib. Rasulullah sampai di Quba’ pada hari Isnin 8 Rabiulawal dan Baginda sampai di Kota Madinah pada hari Jumaat 12 Rabiulawal dan Baginda menunaikan solat Jumaat yang pertama.
C. PERISTIWA WAFATNYA NABI MUHAMMAD : 12 RABIUL AWAL
Wafatnya junjungan besar kita, Muhammad Rasulullah saw. Rasulullah telah wafat pada hari Isnin 12 Rabiulawal 11H bersamaan 7 Jun 632M. Baginda wafat di rumah isterinya Aisyah ra dan dikebumikan di Madinah al-Munawwarah.
Peringatan Haul para Pendahulu
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24:
سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.
Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:
وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار
Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Lanjutan riwayat:
ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ
Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”
Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.
Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.


D. PERISTWA – PERISTIWA PENTING PADA BULAN RABIUL AWAL BAGI UMAT ISLAM
Peristiwa-Peristiwa Penting Bulan Rabiul Awal
Ada banyak peristiwa penting yang telah dicatatkan oleh sejarah jatuh bangunnya tamadun Islam di dalam bulan Rabiulawal ini dan diantaranya ialah;
1. Perlantikan Nabi menjadi Rasul. Dibulan Rabiulawal inilah Nabi saw diangkat menjadi Rasul. Ketika ini Nabi saw berumur 40 tahun. Maka dengan ini bermulah dakwah baginda secara rasmi di Makkah al-Mukarramah.
2. Peperangan Banyak peperangan yang telah terjadi pada zaman Rasulullah saw diantara tentera Islam dan tentera kuffar. Diantara peperangan yang berlaku di bulan Rabiulawal ialah peperangan Safwan (Badar pertama), Bawat, Zi Amar (Ghatfan), Bani An-Nadhir, Daumatul Jandal dan peperangan Bani Lahyan.
3. Abu Bakar ra. menjadi khalifah Pada hari Rasulullah wafat, para sahabat tidak mahu menangguh urusan pentadbiran kerajaan dan segera membai’ah saidina Abu Bakar ra di Dewan Bani Sa’idah. Ini adalah kerana urusan pentadbiran negara tidak boleh terhenti walau seketika dan ia adalah nadi sesebuah kerajaan. Sebahagian sahabat pula menguruskan pengkebumian jenazah Rasulullah saw yang diketuai oleh Saidina Ali ra Ahli Bait Rasulullah saw.
4. Pembukaan Iraq Tentera Islam yang dipimpin oleh Khalid Ibni Walid ra telah memasuki Iraq dan bermulalah pemerintahan Islam di bumi Iraq di zaman saidina Abu Bakar ra.
5. Pembukaan Baitul Muqaddis Salahuddin al-Ayubi telah memimpin tentera Islam menewaskan tentera Salib dan seterusnya membuka pintu bagi pembukaan Baitul Muqaddis pada tahun 583 H.
6. Kejatuhan Empayar kerajaan Islam Sepanyol Kubu terakhir tentera Islam di Andalusia telah ditumbangkan oleh tentera Sepanyol yang dipimpin oleh Ferdinando dan Isabella pada tahun 897H. Bermulalah kemusnahan tempat-tempat bersejarah warisan umat Islam, masjid-masjid ditukar menjadi gereja dan muzium dan tiada lagi suara azan di negara tersebut.
Jika ditinjau dari amalan maulid, haul ataupun hijrah nabi Muhammad SAW maka Tidak ada letak bid’ah pada amalan maulid ini!!.   hanya orang orang arab jahiliyah dari kalangan badwi gunung najd (wahahby) saja yang menolak amalan ini. Anehnya mereka tidak menjadikan memperingati hari maulid nabi tapi sibuk memperingati hari kelahiran muhammad ibnu abd wahab (gembong khawarij akhir zaman)!.

Rabu, 15 Januari 2014

TENTUKAN SEBUAH PILIHAN





...ciri-ciri lelaki Idaman,,,,

1, KAYA nya lelaki karena Akhlaq yang Mahmudah..

2, TAMPAN nya lelaki kejernihan wajah yg selalu dibasahi air wudhu dn tunduk dalam sholatnya.

3. MANIS nya lelaki karena senyum arif dn bijaknya.

4. TINGGI nya karena Kasih sayang,

5. HEBAT nya lelaki karena kesabaran..

6. MULIA nya lelaki karena Iman, dan,,,,,

7. SETIA nya lelaki karena ketaqwaannya....

So, RUPA, HARTA DAN TAHTA nya,,, tiada gunanya,, bila LELAKI tiada memiliki 1 pun kriteria di atas..

Tak ada insan yg sempurna, namun minimal sosok lelaki yg pantas menjadi Imam bagi seorang wanita, harus memiliki 1, 2, 3 dari kriteria di atas.

Biar dia miskin rupa, harta dan Tahta, asal hatinya sarat dengan Iman dan Taqwa serta berakhlaq baik,,, maka pastilah,,, bersamanya menjadi makmumnya akan merengkuh ni'mat dunia dn akhirat-Nya.

Jika itu sudah teraih,,, apakah lagi yg di cari dlm hidup ini,,,???

Bukankah sebanyak apapun harta yg di miliki, setinggi apapun tahta yg di punya, dn seelok apapun rupa yg ada,,, bila semua itu tiada memberikn mamfaat di dunia dn di akhirat,, adlh sia-sia saja bukan??

Siapapun, pasti mendambakan sesuatu yang terbaik utk dirinya dn hidupnya,,, namun tetaplah Iman dan Taqwa yg menjadi prioritas pertama dlm mencari dn menentukan sebuah pilihan....